Seorang Pria WNA Dan Pacarnya Dipalak Karena Dinilai Berbuat Maksiat

Seorang Pria WNA Dan Pacarnya Dipalak Karena Dinilai Berbuat Maksiat : Kepergok sedang berciuman dengan teman wanita di mobil, seorang pria WNA dipalak dan diteriaki. Takut dikeroyok oleh para warga, sejoli ini kabur hingga menabrak dua pengendara motor di daerah Rawa Belong, Jakbar.

Seorang Pria WNA Dan Pacarnya Dipalak Karena Dinilai Berbuat Maksiat

Kedua pria pengendara motor yang ditabrak alhasil mengalami luka-luka dan dilarikan warga ke rumah sakit. Sedangkan James, 34, dan teman wanitanya June, 37, telah diamankan di Mapolsek Palmerah sebelum diserahkan ke Direktorat Intelkam Pengawasan Orang Asing (POA) Polda Metro Jaya.

Di hadapan Kapolsek Palmerah yakni Kompol Armunanto Hutahean, James menolak dituding sedang berbuat mesum. “Saya sedang di mobil, malah diperas sekelompok pemuda. Karena permintaannya tidak dipenuhi, saya dituding berbuat maksiat. Mereka sehingga menggedor-gedor mobil. Saya takut berusaha kabur, tapi dikejar-kejar,” kata James yang ditirukan oleh pihak kapolsek.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 22:30 itu, berawal James dan June ketangkap basah sedang berciuman di mobil Toyota Innova yang sedang diparkir di tepi Joglo, Kembangan, Jakbar. Seorang pemuda lalu menggedor pintu mobil, menyuruh James untuk membuka kaca. Pemuda itu lantas meminta sejumlah uang. “Lantaran tidak mau ribut, James menyodorkan selembar uang pecahan Rp100.000,” kata pihak kapolsek.

Pemuda tersebut kemudian pergi, tapi tidak lama dia pun datang lagi. Kali ini bersama dua rekannya dan meminta uang sejumlah Rp500.000, namun permintaan itu ditolak oleh James.

Seketika ketiga pemuda ini berteriak, “Ada orang bule sedang mesum di mobil. Ini mobilnya! Usir mereka! Jangan sampai lingkungan kita jadi tempat maksiat,“ teriak satu pemuda tersebut sambil menggedor-gedor mobil James.

Diteriaki seperti itu membuat James gelagapan. Dia bergegas untuk menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas kabur. Tapi, beberapa warga mengejar dengan mengendarai motor. James semakin ketakutan dan memacu kendaraan menjadi lebih kencang. Saat di tikungan kawasan Rawa Belong, Palmerah, mobilnya harus menabrak dua pengendara motor.

Himbauan Menembak Mati Para Bandar Narkoba Mendapat Kecaman

Himbauan Menembak Mati Para Bandar Narkoba Mendapat Kecaman : Amnesty International Indonesia tidak setuju dengan adanya imbauan untuk penembakan mati terhadap para bandar narkoba di Indonesia. Hal itu dinilai tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh Presiden Filipina yakni Rodrigo Duterte yang garang dan tidak sungkan habisi para bandar dan pengedar narkoba di negaranya. Belakangan Duterte dikritik karena kebijakan kacamata kudanya yang memakan banyak korban tanpa memperoleh peradilan itu.

Himbauan Menembak Mati Para Bandar Narkoba Mendapat Kecaman

“Penegakan seperti di Filipina bukanlah contoh yang tepat untuk bisa diikuti oleh pemerintah Indonesia,” jelas Direktur Amnesty International Indonesi yakni Usman Hamid saat dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat, 8 September 2017.

Usman menganggap bahwa kebijakan itu tersebut merupakan kebijakan yang keliru serta kurang mengedapankan aspek penegakan hukum. Menurut Usman, dalam mengedepankan proses penegakan hukum, ada banyak cara yang bisa dilakukan mulai dari mengumpulkan keterangan saksi, dokumen, foto, video, dan serta ada banyak kemampuan investigasi yang dimiliki penegak hukum itu sendiri.

“Yang sebenarnya harus lebih diutamakan ketimbang peluru atau senjata,” katanya.

Mantan Koordinator dari KontraS itu pun mengatakan, siapa saja yang disangka melakukan kejahatan tentang peredaran narkotika harus diseret ke pengadilan dan negara harus bisa membuktikan kesalahan dari orang tersebut.

“Untuk memastikan bahwa proses penghukuman itu benar-benar tidak mengalami kesalahan,” tambahnya.

Hal itu disampaikan Usman menyusul dengan beberapa kejadian penembakan mati yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan himbauan tembak mati bandar narkoba ini juga pernah dikemukakan langsung oleh Kapolri Tito Karnavian khususnya terhadap bandar asing yang menjadikan Indonesia sebagai pasar untuk mengedarkan narkoba. Soal tembak mati ini juga pernah dikemukakan oleh Kepala BNN yakni Budi Waseso.

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah : Pihak kepolisian masih terus berusaha memburu kawanan perampok yang sempat meresahkan warga di kawasan daerah Palmerah, Jakarta Barat. Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat yakni AKBP Andi Adnan memberikan penyataan penyidikan terhadap kasus itu masih terus mereka lakukan dengan meminta keterangan dari para korban dan saksi.

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah

“Anggota sedang bekerja, begitu ada perkembangan kami akan memberikan keterangan,” tutur AKBP Andi Adnan, di Jakarta pada Jumat 8 September 2017 kemarin.

Ia mengaskan, pihaknya tidak main-main dalam menindak lanjuti kasus tersebut. Untuk itu, dirinya telah membentuk sebuah tim khusus yang berasal dari para anggota Resmo‎b dan Jatanras. Tim ini bertugas untuk melakukan penyisiran dan serta memburu pelaku untuk mencari titik terang tentang kasus ini.

Menurut pemberitaan sebelumnya, kawanan perampok beroperasi di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Mereka menggunakan dua sepeda motor jenis RX King dan membawa benda tajam dalam setiap aksi yang dilakukannya. Pelaku umumnya melintasi warung klontong 24 jam dan beraksi pada setiap jam yang sama, yakni pukul 04.00 WIB.

menindaklanjuti kejadian ini, bagian kriminolog dari Universitas Indonesia yakni Kisnu Widagso menduga para pelaku sudah memiliki jam terbang kejahatan yang sudah berpengalaman. “Pertama, pilihan waktunya. Jam 03.00 sampai jam 04.00 itu adalah waktu jam paling rawan bagi kewaspadaan pancaindera dan fisik seseorang. Itu sebabnya perampokan di kawasan pemukiman lebih banyak terjadi pada jam-jam tersebut,” jelasnya.

Para pelaku sudah menargetkan tempat-tempat perampokan sesuai perhitungan mereka. Perolehan hasil rampokan di toko-toko kelontong kecil memang lebih kecil, tetapi dengan risiko tertangkap yang juga jauh lebih kecil. Untuk meningkatkan hasil rampokan pelaku dipercaya akan menargetkan serangkaian perampokan dalam seminggu.

Maka, dipilihnya toko kelontong, menurut keterangan Kisnu itu tidak lepas ‎dari pengamanan toko kelontong yang lebih mudah. Selain tidak ada close circuit television (CCTV), toko kelontong juga tidak ada satpam dan hanya dijaga oleh satu penjaga toko.