PBB Larang Tentang Pengoperasionalan Robot Bersenjata

PBB Larang Tentang Pengoperasionalan Robot Bersenjata : Pada masa yang akan datang, robot otonomos diprediksi mengambil alih beragam pekerjaan manusia. Kendati begitu, ada kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional untuk mencegah robot memasuki medan perang.

PBB Larang Tentang Pengoperasionalan Robot Bersenjata

Perwakilan dari berbagai negara yang tergabung dalam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini berdiskusi tentang penggunaan sistem senjata pada robot.

Mengutip laman Ubergizmo, Rabu (22/11/2017), sebanyak 22 negara –kebanyakan negara dengan anggaran militer kecil dan pengetahuan teknis rendah– telah menyerukan larangan keras terhadap pengembangan robot bersenjata yang juga dikenal sebagai robot pembunuh.

Sebelum adanya konvensi PBB tersebut, banyak ahli robotika dan kecerdasan buatan mengirimkan surat ke pemimpin-pemimpin dunia. Kurang lebih isinya adalah ajakan kepada para pemimpin dunia untuk mendukung larangan robot bersenjata.

Para ahli robotika dan kecerdasan buatan khawatir, sebab perusahaan pertahanan swasta dan militer diketahui telah melakukan investasi besar-besaran dalam hal senjata otonom.

Sayangnya dalam pertemuan PBB tersebut, belum ada keputusan tentang pelarangan robot bersenjata. Anggota PBB hanya mengatur dasar pembicaraan mengenai robot bersenjata di masa depan.

Kendati demikian, dilaporkan sebagian besar negara yang mewakili konvensi tersebut setuju, perlu ada instrumen yang mengikat secara hukum tentang penggunaan teknologi robot bersenjata.

Sebagian besar negara juga telah setuju kontrol manusia sangat dibutuhkan terkait dengan sistem senjata otonomos.

Disarmament Ambassador India Amandeep Gill mengatakan, robot tidak akan mengambil alih dunia. “Manusia masih menjadi pemimpin. Saya rasa kita harus berhati-hati untuk tidak mendramatisasi masalah ini,” katanya.

Sayangnya dia beranggapan, melarang adanya robot bersenjata barulah sebuah rencana jangka panjang. Dia mengatakan, negara-negara baru akan menghadapi masalah ini di tahun-tahun ke depan sehingga PBB masih butuh lebih banyak waktu untuk mengetahui bagaimana proses kerja robot bersenjata serta pengendaliannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *