Yamaha Kemungkinan Mencari Penggati Sementara Valentino Rossi

Yamaha Kemungkinan Mencari Penggati Sementara Valentino Rossi : Valentino Rossi harus menepi di Misano dan bisa jadi juga harus kembali absen di Aragon. Pihak Yamaha pun menjajaki untuk mencari rider pengganti dan kabarnya telah memiliki empat calon nama.

Yamaha Kemungkinan Mencari Penggati Sementara Valentino Rossi

Rossi yang saat ini sedang menjalani pemulihan setelah naik meja operasi terkait dengan kecelakaan motokros yang dirinya alami. Selain balapan di Misano pekan ini, ada kemungkinan ia juga masih absen di Aragon pada 24 September mendatang.

Dalam wawancara yang dilansir oleh Crash.net, Managing Director Yamaha Racing yaitu Lin Jarvis berbicara mengenai kemungkinan Rossi membalap di Aragon dan juga potensi calon penggantinya dalam balapan itu jika Rossi masih absen.

“Saya harus katakan saat ini belum ada rencana,” ungkap Jarvis terkait kemungkinan Rossi kembali di Aragon.

“Tentu saja kami memiliki rencana untuk menggantikan dirinya karena memang harus begitu. Sesuai kontrak, setelah menarik seorang rider maka dalam 10 hari ada kewajiban untuk menggantinya. Aturan itu sangat tepat karena acaranya harus tetap berjalan. Jadi kami akan mengajukan seorang rider pengganti untuk Valentino di Aragon nanti.”

“Apa Valentino akan ke Aragon? Menurut saya ia cuma akan ke sana jika yakin benar bisa melaju di atas motor dan membalap. Tak cuma melaju saja karena itu tidak menarik. Saya pikir dia tidak akan pergi ke sana kalau merasa tak mampu bersaing untuk posisi lima atau enam besar. Apa ia akan bisa membalap (di Aragon)? Begini, dokter bilang waktu pemulihannya akan lebih lama (dari jadwal balapan itu) tapi olahragawan biasanya cukup ekstrem. Kami pernah punya pengalaman paling ekstrem dengan Jorge Lorenzo.”

“Jadi hal semacam itu bukannya mustahil. Tapi saya pikir situasinya kini sedikit berbeda dengan Valentino. Ia memiliki pengalaman sehingga akan tahu persis bagaimana kondisinya dan kapan harus kembali. Tentu saja kami akan melakukan tes kepadanya sebelum Aragon, ia akan melaju di atas motor (YZF) R1. Apa ia kemudian akan balapan di Aragon? Entahlah. Tergantung dari apa yang ia rasakan. Pada rasa sakitnya. Fisioterapi. Semua hal,” dirinya menjelaskan.

Cuci Darah Bisa Menjadi Penyebab Hepatitis C

Cuci Darah Bisa Menjadi Penyebab Hepatitis C : Terapi pengobatan terhadap penyakit ginjal kronik adalah dengan cara hemodialis atau cuci darah. Namun, hemodialis bisa juga menjadi penyebab penularan virus hepatitis C.

Cuci Darah Bisa Menjadi Penyebab Hepatitis C

Menurut Dr.Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, diperkirakan ada sekitar 30-60 persen pasien yang mengalami penyakit ginjal kronik (PGK) yang juga tertular virus hepatitis.

“Sampai saat ini masih belum jelas di tahap mana terjadinya penularan tersebut. Di negara maju seperti Jepang, kasusnya hanya 1-5 persen saja yang melalui hemodialisa, tapi di Indonesia angkanya sangat besar,” jelas Rino dalam siaran pers yang diterima oleh Kompas.com.

Keparahan dari penyakit dan kualitas hidup pasien PGK yang tertular hepatitis C umumnya menjadi jauh lebih buruk dibanding dengan mereka yang hanya memiliki PGK saja. Angka harapan hidupnya juga menjadi lebih rendah.

Hepatitis C biasanya ditularkan melalui kontak darah dan juga cairan tubuh. Untuk dapat menurunkan resiko penularan pada pasien yang sedang menjalani cuci darah, Rino memberikan rekomendasi agar untuk melakukan terapi cuci darah di satu tempat saja.

“Jangan pindah-pindah tempat untuk cuci darah. Selain itu, pihak penyedia layanan hemodialisa sebaiknya menggunakan alat-alat sekali pakai saja,” kata ahli hepatologi yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komite Ahli Hepatitis di Kementrian Kesehatan RI ini.

Terapi pengobatan hepatitis C pada pasien PGK menurut dia akan sangat direkomendasikan untuk agar pasien bisa segera menjalani transplantasi ginjal.

Kemajuan pengobatan untuk hepatitis C saat ini juga bisa dimanfaatkan dalam mengobati para pasien PGK yang tertular virus ini. Salah satu terobosan dalam terapi hepatitis C adalah mengkonsumsi obat-obatan DAA (Direct-Acting Antiviral) seperti sofosbuvir.

Dengan obat tersebut, angka kesembuhan bisa mencapai 90-98 persen. Pengobatannya pun menjadi lebih nyaman bagi pasien karena cukup diminum, tanpa harus disuntikan.

Meski begitu, obat sofosbuvir tidak bisa diberikan pada pasien PGK karena obat disekresi di ginjal. “Pemberian obat ini bisa memperburuk kondisi organ ginjal mereka yang sudah bermasalah,” jelas Rino.

Obat dari golongan DAA terbaru yang aman bagi para pasien PGK yaitu kombinasi Grazoprevir dan Elbasvir. Obat ini disekresi di hati sehingga akan aman untuk ginjal dan memberi efektivitas setara dengan obat DAA lainnya.

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah : Pihak kepolisian masih terus berusaha memburu kawanan perampok yang sempat meresahkan warga di kawasan daerah Palmerah, Jakarta Barat. Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat yakni AKBP Andi Adnan memberikan penyataan penyidikan terhadap kasus itu masih terus mereka lakukan dengan meminta keterangan dari para korban dan saksi.

Polisi Membentuk Tim Khusus Untuk Mengatasi Kawanan Perampok Palmerah

“Anggota sedang bekerja, begitu ada perkembangan kami akan memberikan keterangan,” tutur AKBP Andi Adnan, di Jakarta pada Jumat 8 September 2017 kemarin.

Ia mengaskan, pihaknya tidak main-main dalam menindak lanjuti kasus tersebut. Untuk itu, dirinya telah membentuk sebuah tim khusus yang berasal dari para anggota Resmo‎b dan Jatanras. Tim ini bertugas untuk melakukan penyisiran dan serta memburu pelaku untuk mencari titik terang tentang kasus ini.

Menurut pemberitaan sebelumnya, kawanan perampok beroperasi di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Mereka menggunakan dua sepeda motor jenis RX King dan membawa benda tajam dalam setiap aksi yang dilakukannya. Pelaku umumnya melintasi warung klontong 24 jam dan beraksi pada setiap jam yang sama, yakni pukul 04.00 WIB.

menindaklanjuti kejadian ini, bagian kriminolog dari Universitas Indonesia yakni Kisnu Widagso menduga para pelaku sudah memiliki jam terbang kejahatan yang sudah berpengalaman. “Pertama, pilihan waktunya. Jam 03.00 sampai jam 04.00 itu adalah waktu jam paling rawan bagi kewaspadaan pancaindera dan fisik seseorang. Itu sebabnya perampokan di kawasan pemukiman lebih banyak terjadi pada jam-jam tersebut,” jelasnya.

Para pelaku sudah menargetkan tempat-tempat perampokan sesuai perhitungan mereka. Perolehan hasil rampokan di toko-toko kelontong kecil memang lebih kecil, tetapi dengan risiko tertangkap yang juga jauh lebih kecil. Untuk meningkatkan hasil rampokan pelaku dipercaya akan menargetkan serangkaian perampokan dalam seminggu.

Maka, dipilihnya toko kelontong, menurut keterangan Kisnu itu tidak lepas ‎dari pengamanan toko kelontong yang lebih mudah. Selain tidak ada close circuit television (CCTV), toko kelontong juga tidak ada satpam dan hanya dijaga oleh satu penjaga toko.